Perempuan Serigala (Gary Ghaffuri): Membaca Perempuan Serigala, Membaca Gary Ghaffuri

Oleh: Andreas Nova

 

Teruntuk Gary Ghaffuri.

Nama Anda pertama kali saya kenal ketika Anda mengirimkan dua naskah terjemahan cerpen Mayat Hidup karya Chuck Palahniuk dan Cinta Setinggi Langit karya Etgar Keret yang keduanya dimuat di Kibul. Terjemahan tersebut bagi saya cukup luwes dan nyaman dibaca. Hal-hal kecil seperti frasa “Do them separately, man” yang dialihbahasakan menjadi “Dipisah aja bayarnya, mas” menambah cita rasa lokal muncul dalam hasil terjemahan Anda.

Itu baru satu contoh, jika mungkin saya selo, saya bisa menambahkan perbandingan frasa-frasa yang Anda gunakan dalam terjemahan-terjemahan Anda. Anda tidak menggunakan diksi yang ndakik-ndakik nyastra, namun diksi yang dekat itu justru menjadi poin plus untuk terjemahan Anda—walaupun bisa saja karena Chuck Palahniuk dan Etgar Keret sendiri tidak pernah menggunakan kata-kata yang nyastra dalam karyanya.

Kedekatan diksi itu membuat saya berpikir, “Lho kok gaya penerjemahan seperti ini rasanya tidak asing ya?” Semula saya menduga ini dekat dengan apa yang dilakukan Mahbub Junaidi ketika menerjemahkan Animal Farm (George Orwell) menjadi Binatangisme. Namun ketika membaca The Catcher in The Rye yang diterjemahkan Yusi Avianto Pareanom, saya merasa gaya penerjemahan Yusi adalah gaya yang paling dekat dengan Gary Ghaffuri. “Do them separately, man” menjadi “Dipisah aja bayarnya, Mas” dalam To The Moon and Back-nya Keret memiliki cita rasa yang sama dengan “Game, my ass!” menjadi “Permainan, matamu!” dalam The Catcher in The Rye-nya JD. Salinger terjemahan Yusi Avianto Pareanom. Lalu timbul tanya setelah membaca terjemahan-terjemahan Anda, bagaimana dengan karya Anda sendiri?

Kebetulan sekitar pertengahan April, di sebuah toko buku yang selalu diskon, saya menemukan buku berwarna biru bergambar sepasang mata yang menatap tajam dengan judul Perempuan Serigala, dengan nama penulisnya, Gary Ghaffuri. Buku itu diterbitkan oleh Indie Book Corner. “Wa iki, menarik ini.” Saya tertarik bukan hanya karena judulnya yang cukup “galak”, tapi juga penasaran karena belum pernah membaca cerpen karya Anda sebelumnya, baru sebatas membaca terjemahan yang dikirim ke surel Redaksi Kibul. Terjemahan Anda seperti yang saya ungkapkan di atas, menarik karena Yusi Avianto Pareanom adalah salah satu penulis favorit saya. Akhirnya buku itu bersama beberapa buku lain yang saya beli transit sejenak di meja kasir, lalu singgah di rak buku di rumah saya.

Karena bukunya cukup tipis, sekitar 126 halaman, saya mendahulukan untuk membaca buku itu. Setelah menyelesaikan cerita pendek pertama yang berjudul sama dengan judul buku itu, saya menduga Anda adalah spesies penulis yang sama dengan saya. Menggemari Yusi Avianto Pareanom.

Cerita pendek pertama berjudul Perempuan Serigala. Kisah di balik gejolak pergantian kekuasaan selalu asyik untuk dikulik apalagi ditambah bumbu-bumbu mistis (itu kalau kemampuan melihat sosok hewan dalam tubuh seseorang bisa dibilang mistis). Bagi saya cerpen ini menarik, selain dari narasi yang dikandungnya, Anda menceritakannya dengan sudut pandang orang kedua, seperti yang sering dilakukan Yusi Avianto Pareanom dalam beberapa cerpennya. Cerpen kedua Babu Cino, juga mengingatkan saya pada salah satu cerpen favorit saya di buku Muslihat Musang Emas, yang berjudul Gelang Sipaku Gelang. Anda mengangkat narasi multikultur yang dibalut sepakbola. Sejalan dengan kampanye “Let’s Kick Racism Out of Football” yang sering saya lihat di splash screen game Football Manager. Kisah tersebut mengajak pembacanya bernostalgia seperti halnya cerpen Gelang Sipaku Gelang.

Aroma yang sedikit berbeda terasa pada cerpen Menikahi Bidadari. Ada sedikit rasa Eka Kurniawan dari segi penamaan karakter. Karto Pengkor mirip dengan Edi Idiot, atau Ajo Kawir dalam karya-karya Eka Kurniawan. Menggabungkan nama ndeso dengan kata sifat yang mengalami peyorasi. Cerpen ini menjadi salah satu cerpen favorit saya karena di awal ketika membaca judul dan paragraf pembukanya saya pikir ini berhubungan dengan terorisme. Ternyata dugaan saya salah. Cerpen ini juga menarik karena diceritakan dengan gaya reportase. Brilian!

Lelucon-lelucon sederhana nan segar yang sering muncul dalam karya Yusi Avianto Pareanom juga muncul dalam cerpen berikutnya Perbincangan Tidak Penting mengenai Cara Terbaik untuk Mati Bunuh Diri, Cara Bercinta di Luar Angkasa, Kate Upton, Cara Menyunat Wolverine, dan Ilmu Rawa Rontek. Jangkrik! Judulnya panjang betul. Bagi saya ini adalah judul cerpen kedua terpanjang yang pernah saya baca. Yang pertama adalah judul asli dari Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup yang ada dalam Buku Antologi Cerpen dan Puisi Kibul 2017. Mau tahu judul aslinya? Sebaiknya Anda beli bukunya dulu. Barangkali Anda jadi terinspirasi untuk menulis cerpen berjudul lebih panjang dari karya Titis Anggalih itu.

Levantie bagi saya adalah cerpen Anda yang paling menyentuh. Mengingatkan saya bahwa manusia pada dasarnya memiliki naluri untuk memanusiakan dirinya sendiri dengan cara memanusiakan orang lain. Namun variabel-variabel yang muncul dalam hidupnya yang membuatnya mengingkari naluri tersebut.

Kedekatan gaya penulisan cerpen Anda dan Paman Yusi tentu saja bukan suatu hal yang haram. Bagi penulis-penulis pemula (semoga saya tidak salah menyebut Anda sebagai penulis pemula) meniru gaya tulisan dan menggabungkannya dengan ide orisinil adalah suatu hal yang wajar dilakukan. Toh tidak ada yang baru di bawah matahari. Titis Anggalih pun pernah mengakui ia mencoba meniru gaya realisme magis-nya Eka Kurniawan dalam Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup. Saya malah menyarankan untuk membaca karya Gabriel Garcia Marquez yang menginspirasi Eka. Yang salah itu kalau memplagiasi secara mentah-mentah, dan amit-amit mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri.

Cara Anda bercerita yang ringan dan tidak menggunakan diksi-diksi yang ndakik-ndakik njlimet itu justru memudahkan pembaca untuk memahami pesan dalam cerpen-cerpen Anda. Paman Yusi juga hampir tidak pernah menggunakan diksi berat ketika menulis cerpen. Selayaknya cerpen yang merupakan bacaan yang dibaca dalam sekali duduk, sudah seharusnya ringan dan mudah dipahami. Ringan dari bahasanya, berbobot dari esensinya. Beda kalau sudah dongeng macam Raden Mandasia—walaupun Raden Mandasia juga mudah dicerna sih.

Namun semirip-miripnya gaya bercerita Anda dengan Yusi Avianto Pareanom, saya pikir anda lebih bernyali dalam mengolah latar cerita daripada Paman Yusi. Seingat saya, Yusi Avianto Pareanom belum pernah mengambil latar belakang seperti kejadian 98 atau konflik 65. Paman Yusi lebih sering mengambil latar belakang kejadian sehari-hari dan mengambil sudut pandang yang unik dan terkadang tak masuk akal.

Oh ya, hampir lupa. Seperti layaknya Yusi Avianto Pareanom, Anda juga memberi kejutan-kejutan yang diselipkan dalam cerpen-cerpen anda. Plot twist yang tak saya duga ada di cerpen pamungkas dalam buku ini. Yang malah justru mengingatkan saya pada cerpen saya sendiri. Apa? Anda belum baca? Bacalah, lalu barangkali kapan-kapan kita bisa janjian dan ngopi bareng untuk berbicara panjang lebar mengenai Yusi dan fiksi-fiksi menarik lainnya dan memantik kita untuk berkarya lebih asyik lagi.

Semoga selalu sehat dan produktif, Gary Ghaffuri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *