Semesta Matsnawi

Banyak yang memuji masterpiece Rumi ini. Abdurrahman Al jami’ seorang Sufi Persia abad ke-15 pernah menyatakan bahwa matsnawi maknawi merupakan “tafsir Alquran” yang indah. Terminologi tafsir yang dimaksud oleh Abdurrahman Al jami’ tersebut adalah takwil atau tafsir kerohanian terhadap ayat-ayat Alquran yang ditulis dalam karangan yang bersajak indah. Rumi, di dalamnya, menguraikan keluasan lautan, semangat kerohanian, dan perjalanan manusia menuju dunia serta perjalanan dari dunia menuju kebenaran hakiki.

Buku ini dekorasi dari kertas sebanyak 6 jilid karya penyair Sufi tersebut. Bermuatan kalam-kalam yang penuh makna, buku ini menyaksikan keindahan ajaran kebajikan; Welas Asih, cinta, dan spiritualitas.

 

Samudra Rubaiyat

Rumi bertanya, “Jika ilmu pengetahuan dan logika membuat orang semakin pandai dan cerdik, Mengapa pada saat yang sama menimbulkan permusuhan? Mengapa orang beriman itu berpikiran sempit dan banyak melakukan penyimpangan? Apakah pandangan sempit merupakan sifat dan ciri para pendiri agama besar? Apa sebenarnya nilai kitab suci bagi orang beriman? Apakah hanya untuk dibaca dengan suara merdu dan tidak untuk di ditafsirkan dalam rangka menjawab realitas kehidupan? Mengapa orang beriman yang tahu isi kitab suci itu gagal dalam tindakan dan muamalah?

 

Matahari Diwan Syam Tabrizi: Terbang Bersama Cahaya Cinta dan Duka Cita

Hari itu, sebagaimana biasanya, Jalaluddin Rumi tengah mengatur para muridnya dalam sebuah perkuliahan. Tiba-tiba seseorang yang sebelumnya belum dikenal secara lebih dekat oleh Rumi masuk ruang perkuliahan tersebut. Orang asing itu pun menunjuk sebuah tumpukan buku sembari bertanya dengan nada bentakan, “Apa ini?” Rumi menjawab dengan nada jengkel “Kau tidak akan mengerti”. Mendapat jawaban yang demikian dari Rumi, orang itu lantas membawa buku-buku tersebut untuk dibakar. Maka tersulut lah api yang membakar buku-buku tersebut. Melihat hal aneh semacam itu, Rumi ganti bertanya “Apa ini?” Orang asing itu menjawab, “Kau tidak akan mengerti”. Saat itu, Rumi terhentak dalam kebingungan. Dia merasa bodoh, hingga pada akhirnya menjadi murid dari orang asing yang membakar buku-buku itu. Orang asing tersebut adalah Syamsuddin Al-Tabrizi, atau dikenal sebagai Syams Tabrizi. Dialah guru yang membimbing Jalaluddin Rumi untuk meninggalkan segalanya. Sejak pertemuan dengan Syams Tabrizi, Rumi berubah secara drastis. Hingga pada akhirnya Rumi menjadi Sufi Agung yang populer dengan syair-syair indahnya. Suatu ketika, Syams Tabrizi meninggalkan Rumi tanpa memberitahukan Ke mana tujuan dari kepergiannya itu. Rumi bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Maka lahirlah sebuah kitab yang bertajuk “Diwan Syams Tabrizi” yang berisi ‘ghazal-ghazal’ Kerinduan Rumi kepada Sang Guru, Syams Tabrizi.

Weight 850 g
SKU: PAK10000010 Category: Tags: ,