Indonesia tengah 80-an. Di tengah sapuan gelombang pembangunan, Lerok, desa di Pantura Jawa, sepertinya tak masuk hitungan. Terpencil, tak berkembang, penduduknya harus nyaman dengan segala kekurangan.

Tak merasakan hadirnya negara, Lerok menemukan Malaysia. Bukan saja pekerjaan, negeri itu bahkan memberikan harapan. Dengan itu, Lerok menggeliat. Rumah dibangun, masjid dipugar, dan barang-barang elektronik dengan menggebu dibeli. Lerok dulu gelap, kini jadi gemerlap. Jalan-jalan dihaluskan. Kendaraan berseliweran. Ketika seantero Indonesia hancur dihajar krisis moneter ’97, Lerok justru melejit akibat nilai tukar rupiah yang anjlok atas ringgit, Namun tak ada perubahan tanpa rasa kehilangan. Satu demi satu, hal-hal yang dulu jadi tanda pengenal Lerok hilang. Jenis-jenis mata pencaharian pergi bersama gelombang migrasi. Kultur tanam hilang seiring terbengkalainya sawah-ladang.

Ulid, tokoh kita, juga harus merelakan banyak hal yang dicintainya. Mulai dari kambing kesayanganya, bapaknya, lalu teman-teman dekatnya, masa lalunya, pun desa melaratyang dicintainya, Mencoba tidak jadi bagian dari arus, Ulid bertahan untuk tidak ikut-ikutan ke Malaysia, la pancang citacita mulia: menjadi pemulia tanaman. Masalahnya, apakah segampang itu? Ulid adalah serangkai catatan, kesaksian atas keadaan, pertemuan, kehilangan, dan, yang terpenting, perubahan sebuah masyarakat yang ter-TKI-kan.

Weight 600 g
SKU: PIF05010001 Categories: , Tags: ,